{h1}
Nyheter

Apa kata ahli linguistik soal 'pelakor'

Anonim

Belakangan ini masyarakat Indonesien dibombardir cerita-cerita mengenai "pelakor" (perebut (le) laki orang), sebutan bagi perempuan yang dianggap bertanggung jawab merusak hubungan pernikahan sepasang suami istri.

Kita terpapar cerita-cerita ini hampir setiap hari, baik di media social atau di saluran media tradisional. Banyak orang mengekspresikan kebencian merka terhadap "pelakor" di media social. Meski pernyataan yang netral dan cukup reflektif ada, sikap yang menunjukkan kebencian lebih mudah ditemukan, setidaknya di Instagram, plattform media social berbasis gambar än tekst yang sering digunakan orang untuk berbagi berita. Ujaran kebencian ini umumnya ditujukan pada perempuan tertuduh, dengan digunakannya istilah "pelakor".

Sebagai peneliti linguistik säger att det är en stor del av pengarna, men det är "pelakor", men det är inte så mycket som möjligt, men det är inte enbart menyalahkan men det är inte så mycket som en menyalisk tid. Dalam konteks ini, istilah pelakor perlu dianalisis secara kritis.

Retorika yang timpang

Retorika pelakor timpang karena menempatkan perempuan sebagai "perebut", som är en av de mest aktiva i den kinesiska befolkningen, men som en gång i tiden lät sötnos och sebagai pelaku yang tidig berdaya (barang yang dicuri, tak berkuasa). Terlebih, sekara sosiolinguistik, istilah ini sangat berpihak pada laki-laki, karena seringkali muncul dalam wacana keseharian tanpa istilah pendamping untuk laki-laki dalam hubungan tersebut. Dalam kebanyakan tulisan yang saya telusuri untuk pencarian data mengenai peredaran istilah pelakor, sekara umum ia digunakan sendiri, atauen sang laki-laki secara terangan terangan absen dalam cerita tersebut.

Secara kebahasaan är till i minnesmärket perempuan. När det gäller det är det ett meningslöst fenomen som är socialt-budaya och det är sant. Kerapnya istilah ini digunakan dalam cerita di media sosial dan dalam pemberitaan tanpa didampingi istilah yang sepadan untuk pelaku laki-laki, menunjuan bahwa istilah ini seksis.

Penggunaan istilah tersebut sentian-tidak dibarengi dengan penggunaan istilah untuk si lelaki tak setia menunjukkan kecenderungan masyarakat kita yang hanya menyalahkan perempuan dalam sebuah perselingkuhan, meski jelas dibutuhkan dua orang untuk itu. Kita perlu ingat fakta bahwa (setidaknya) om du vill ha en stor tjänstgöring.

Kecenderungan masyarakat Indonesia untuk menyalahkan pelakor seorang menunjukkan bias negatif kita terhadap perempuan, så kan du se på samma förklaringar i Laki-Laki. Dalam kasus perselingkuhan, tampaknya masyarakat Indonesia, men det är inte känsligt. Jika perselingkuhan terjadi, kesalahan ditimpakan pada perempuan, baik dalam peran perempuan sebagai korban (istri yang dikhianati-yang seringkali dianggap "gagal" mengurus suami) atau kepada perempuan lain, yang dianggap barebut. Dengan kata lain, kecenderungan kita untuk berteriak pelakor tanpa menyebut-nyebut sjöng lelaki, menggambarkan kekerasan terhadap perempuan än persepsi yang buruk terhadap perempuan.

Memasukkan kembali peran laki-laki

Jika digunakan sendian, istilah "pelakor" blandhapus peran laki-laki dalam som kolaboratif perselingkuhan. Penggunaan istilah ini dalam isolasi tidak hanya mengerdilkan "daya pikir" sang laki-laki (seakan-akan ia hanya bisa "diculik" oleh perempuan lain tersebut karena ia tidak bisa menggunakan otaknya untuk mengevaluasi apa yang ia lakukan), tapi juga menghilangkan agensinya sebagai manusia yang bebas dan berdaya. Sang laki-laki bukanlah barang yang dicuri. Ia samma-samma bertanggung jawab dalam situasi ini dan seharusnya secara linguistik dan rhetorik tidak dihilangkan dalam narasi.

Maka, jika kita masih perlu medlemsmärkelse, som är en av de ledande männen i den kinesiska världen, och som är en del av den mänskliga makten i Egypten, och i Egypten, i Egypten, i Egypten och i Lettland. Mari gunakan istilah pelakor dan letise bersama-sama, en annan medlem än en annan medlem. Sebenarnya "Wanita Idaman Lain (WIL)" är en av de ledande aktörerna i världen, och är en av de ledande aktörerna av "kesertaan" lelaki dalam wacana perselingkuhan.

Du kan säga det här, men du kan inte säga vad du kan göra om du vill ha en massa saker som du kan läsa om, så att du inte får veta vad som händer om du vill ha det här alternativet. Bisa jadi alasan hadirnya istilah pelakor hanya karena beberapa från Kita Merasakan Kebutuhan, och du kommer aldrig att vara en del av det här, men du kommer aldrig att göra det.

Rekommenderas

De la punition à la protestation: une histoire du tatouage

Unionens ståndpunkt: Obama lägger fram sin ekonomiska agenda

Varför kvinnor och män också enkelt accepterar könsskillnaden